Description:Simbol kota selalu menjadi perbincangan menarik. Kehadirannya tidak hanya menjadi aksesori untuk mempercantik sebuah kota, tetapi lebih dari itu, simbol kota telah menjadi media untuk merepresentasi sebuah kekuasaan. Oleh karena itu, buku ini mengungkapkan apa, mengapa, dan bagaimana simbol-simbol kota di SUrabaya berubah seiring dengan perubahan kekuasaan, khusunya dalam periode 1930-1960.Sejarah simbolisme Surabaya, baik yang berasal dari sesuatu yang sebelumnya sudah ada maupun yang direkonstruksi, dapat dibagi dalam empat periode: periode kolonial Belanda, pendudukan Jepang, Orde Lama, dan Orde Baru dan saat ini sebuah tahapan baru tengah berlangsung. Tiap-tiap periode berusaha membangun kenagan kolektif, tetapi ketika periode tersebut berakhir, periode berikutnya akan berusaha menghapus ingatan kolektif, tetapi ketika periode tersebut berakhir, periode berikutnya akan berusaha menghapus ingatan kolektif itu dan membangun sebuah ingatan kolektif baru.Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika beberapa monumen dan patung yang dibangun oleh pemerintah Belanda saat ini tidak ditemukan lagi jejaknya. Demikian pula dengan nama-nama jalan yang berbahasa Belanda, seperti Coen Boulevard, Altingsstraat, Speelmanstraat, Daendelsstraat, dan lain-lain tidak ditemukan lagi saat ini. Setelah proklamasi kemerdekaan, nama-nama jalan yang diambil dari nama-nama gubernur jendral tersebut dihapus dan diganti dengan nama-nama pahlawan nasional dan pahlawan lokal Surabaya. Coen Boulevard diubah menjadi Jalan Raya Dr. Sutomo, Altingsstraat menjadi Jalan Trunojoyo, Speelmanstraat menjadi Jalan M.H. Thamrin, Daendelsstraat menjadi Jalan Imam Bonjol, dan Jalan van Heutz diubah menjadi nama jalan musuhnya, Teuku Umar.Selain perubahan nama jalan, monumen, tugu, patung, lambang kota, masjid, gereja, klenteng, dan makam Tionghoa adalah simbol-simbol kota yang dipilih sebagai produk kajian yang menjeleskan pada kita siapa, bagaimana, dan dengan mekanisme apa kota ini dikendalikan, terutama dalam periode 1930-an hingga 1960-an.We have made it easy for you to find a PDF Ebooks without any digging. And by having access to our ebooks online or by storing it on your computer, you have convenient answers with Negara di Tengah Kota: Politik Representasi dan Simbolisme Perkotaan (Surabaya 1930-1960). To get started finding Negara di Tengah Kota: Politik Representasi dan Simbolisme Perkotaan (Surabaya 1930-1960), you are right to find our website which has a comprehensive collection of manuals listed. Our library is the biggest of these that have literally hundreds of thousands of different products represented.
Pages
205
Format
PDF, EPUB & Kindle Edition
Publisher
LIPI Press
Release
2011
ISBN
9797995437
Negara di Tengah Kota: Politik Representasi dan Simbolisme Perkotaan (Surabaya 1930-1960)
Description: Simbol kota selalu menjadi perbincangan menarik. Kehadirannya tidak hanya menjadi aksesori untuk mempercantik sebuah kota, tetapi lebih dari itu, simbol kota telah menjadi media untuk merepresentasi sebuah kekuasaan. Oleh karena itu, buku ini mengungkapkan apa, mengapa, dan bagaimana simbol-simbol kota di SUrabaya berubah seiring dengan perubahan kekuasaan, khusunya dalam periode 1930-1960.Sejarah simbolisme Surabaya, baik yang berasal dari sesuatu yang sebelumnya sudah ada maupun yang direkonstruksi, dapat dibagi dalam empat periode: periode kolonial Belanda, pendudukan Jepang, Orde Lama, dan Orde Baru dan saat ini sebuah tahapan baru tengah berlangsung. Tiap-tiap periode berusaha membangun kenagan kolektif, tetapi ketika periode tersebut berakhir, periode berikutnya akan berusaha menghapus ingatan kolektif, tetapi ketika periode tersebut berakhir, periode berikutnya akan berusaha menghapus ingatan kolektif itu dan membangun sebuah ingatan kolektif baru.Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika beberapa monumen dan patung yang dibangun oleh pemerintah Belanda saat ini tidak ditemukan lagi jejaknya. Demikian pula dengan nama-nama jalan yang berbahasa Belanda, seperti Coen Boulevard, Altingsstraat, Speelmanstraat, Daendelsstraat, dan lain-lain tidak ditemukan lagi saat ini. Setelah proklamasi kemerdekaan, nama-nama jalan yang diambil dari nama-nama gubernur jendral tersebut dihapus dan diganti dengan nama-nama pahlawan nasional dan pahlawan lokal Surabaya. Coen Boulevard diubah menjadi Jalan Raya Dr. Sutomo, Altingsstraat menjadi Jalan Trunojoyo, Speelmanstraat menjadi Jalan M.H. Thamrin, Daendelsstraat menjadi Jalan Imam Bonjol, dan Jalan van Heutz diubah menjadi nama jalan musuhnya, Teuku Umar.Selain perubahan nama jalan, monumen, tugu, patung, lambang kota, masjid, gereja, klenteng, dan makam Tionghoa adalah simbol-simbol kota yang dipilih sebagai produk kajian yang menjeleskan pada kita siapa, bagaimana, dan dengan mekanisme apa kota ini dikendalikan, terutama dalam periode 1930-an hingga 1960-an.We have made it easy for you to find a PDF Ebooks without any digging. And by having access to our ebooks online or by storing it on your computer, you have convenient answers with Negara di Tengah Kota: Politik Representasi dan Simbolisme Perkotaan (Surabaya 1930-1960). To get started finding Negara di Tengah Kota: Politik Representasi dan Simbolisme Perkotaan (Surabaya 1930-1960), you are right to find our website which has a comprehensive collection of manuals listed. Our library is the biggest of these that have literally hundreds of thousands of different products represented.