Description:Membaca puisi Wiji Thukul adalah membaca otobiografi kejiwaan si penyair. Dia sedang menceritakan pengalaman hidupnya. Tapi, sekaligus juga, dia menceritakan nasib jutaan rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan yang terlalu menguntungkan kaum elitnya. Bahkan, dia sebenarnya juga sedang menceritakan kehidupan ratusan juta orang-orang miskin yang berserakan di banyak pelosok dunia, yang nasibnya tergusur oleh kekuatan modal dan kekuatan senjata. Pada titik inilah puisi Wiji Thukul menjadi universal, karena manusia yang menderita merupakan sebuah pengalaman global yang dialami banyak penduduk dunia pada saat ini.Semua ini terjadi tanpa pretensi dari pihak Wiji. Dia bukan mau menjadi seorang tokoh yang berbicara tentang persoalan-persoalan nasional. Dia bukan mau menjadi pahlawan kaum miskin di dunia ini. Dia cuma mau bercerita tentang nasibnya yang tidak kunjung bertambah baik. Dia mau bercerita tentang kesedihannya, ketidak-berdayaannya, ketidak-pahamannya, dan mimpi-mimpinya ketika dia tertidur kelelahan. Dia juga ingin supaya teman-temannya bisa memahami dan merasakan apa yang dikatakannya, bisa menangis dan marah, serta bisa bermimpi tentang sebuah dunia lain nun jauh di sana, yang lebih indah. Dia mau supaya dalam penderitaan, mereka bisa merasa bersama.Wiji Thukul menuliskan semuanya ini dalam puisi-puisinya. Kata orang, karena itu dia disebut penyair. Sebagai penyair, dia hanya ingin menjadi penyair lokal di kampungnya. Baginya, lebih penting puisinya dihayati oleh tetangga-tetangganya di kampung Jagalan Tengah, Solo, ketimbang dipuji oleh para kritikus sastra di kota metropolitan Jakarta atau fakultas-fakultas sastra mancanegara.Mungkin karena keinginannya yang sangat sederhana ini, yang diungkapkannya dengan kejujuran dan kepolosan, tiba-tiba Wiji Thukul menjadi penyair nasional. Dan mungkin, pada suatu waktu, juga internasional. Padahal Wiji Thukul cuma ingin menulis puisi kampung.- Arief Budiman*Sampul buku ini belum berhasil kami temukan. Mohon bantuannya apabila ada yang memiliki.We have made it easy for you to find a PDF Ebooks without any digging. And by having access to our ebooks online or by storing it on your computer, you have convenient answers with Mencari Tanah Lapang : Puisi. To get started finding Mencari Tanah Lapang : Puisi, you are right to find our website which has a comprehensive collection of manuals listed. Our library is the biggest of these that have literally hundreds of thousands of different products represented.
Description: Membaca puisi Wiji Thukul adalah membaca otobiografi kejiwaan si penyair. Dia sedang menceritakan pengalaman hidupnya. Tapi, sekaligus juga, dia menceritakan nasib jutaan rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan yang terlalu menguntungkan kaum elitnya. Bahkan, dia sebenarnya juga sedang menceritakan kehidupan ratusan juta orang-orang miskin yang berserakan di banyak pelosok dunia, yang nasibnya tergusur oleh kekuatan modal dan kekuatan senjata. Pada titik inilah puisi Wiji Thukul menjadi universal, karena manusia yang menderita merupakan sebuah pengalaman global yang dialami banyak penduduk dunia pada saat ini.Semua ini terjadi tanpa pretensi dari pihak Wiji. Dia bukan mau menjadi seorang tokoh yang berbicara tentang persoalan-persoalan nasional. Dia bukan mau menjadi pahlawan kaum miskin di dunia ini. Dia cuma mau bercerita tentang nasibnya yang tidak kunjung bertambah baik. Dia mau bercerita tentang kesedihannya, ketidak-berdayaannya, ketidak-pahamannya, dan mimpi-mimpinya ketika dia tertidur kelelahan. Dia juga ingin supaya teman-temannya bisa memahami dan merasakan apa yang dikatakannya, bisa menangis dan marah, serta bisa bermimpi tentang sebuah dunia lain nun jauh di sana, yang lebih indah. Dia mau supaya dalam penderitaan, mereka bisa merasa bersama.Wiji Thukul menuliskan semuanya ini dalam puisi-puisinya. Kata orang, karena itu dia disebut penyair. Sebagai penyair, dia hanya ingin menjadi penyair lokal di kampungnya. Baginya, lebih penting puisinya dihayati oleh tetangga-tetangganya di kampung Jagalan Tengah, Solo, ketimbang dipuji oleh para kritikus sastra di kota metropolitan Jakarta atau fakultas-fakultas sastra mancanegara.Mungkin karena keinginannya yang sangat sederhana ini, yang diungkapkannya dengan kejujuran dan kepolosan, tiba-tiba Wiji Thukul menjadi penyair nasional. Dan mungkin, pada suatu waktu, juga internasional. Padahal Wiji Thukul cuma ingin menulis puisi kampung.- Arief Budiman*Sampul buku ini belum berhasil kami temukan. Mohon bantuannya apabila ada yang memiliki.We have made it easy for you to find a PDF Ebooks without any digging. And by having access to our ebooks online or by storing it on your computer, you have convenient answers with Mencari Tanah Lapang : Puisi. To get started finding Mencari Tanah Lapang : Puisi, you are right to find our website which has a comprehensive collection of manuals listed. Our library is the biggest of these that have literally hundreds of thousands of different products represented.